karena pelengkap itu perlu
Rabu, 03 Juni 2015
Pre Release Aplikasi 2.7
Setelah 7 bulan tidak melakukan update aplikasi, kini untuk versi terbaru sedang dalam finalisasi. Diharapkan sudah bisa dilakukan release pada periode tahun ajaran baru nanti bersamaan dengan periode pendataan baru.
Fasilitas baru untuk versi yang akan direlease mayoritas lebih kepada pemanfaatan tool dan library langsung pada aplikasi sehingga tidak ketergantungan dengan aplikasi Dapodik (das/men). Walaupun masih tetap membutuhkan aplikasi Dapodik namun hanya pada saat pengaturan awal instalasi saja.
Pada segi reporting versi ini sudah dilengkapi dengan header report sesuai dengan satuan pendidikan terkait (dapat dilakukan penyesuaian) dan konversi kedalam file PDF langsung tanpa perlu penambahan library atau aplikasi pendukung seperti pada versi-versi sebelumnya. Pada formulir PTK sudah dilengkapi dengan data beban ajar dan beberapa riwayat yang sering diperlukan.
Untuk tampilan data ditambahkan kolom nomor sehingga memudahkan untuk membaca data yang ditampilkan tersebut.
Fasilitas lainnya tunggu sampai resmi dilakukan release nanti :)
selengkapnya >>
![]() |
| Tampilan proses instalasi |
![]() |
| Tampilan utama versi 2.7 |
![]() |
| Formulir cetak PTK |
![]() |
| Tampilan data pokok |
Kamis, 21 Mei 2015
Peserta Didik Hilang, Bencana atau Dilema
Peserta didik tiba-tiba berkurang ditampilan sistem data pokok pendidikan adalah topik yang sedang ramai dilingkungan pengelola data tingkat dinas dan sekolah. Yang membuat heboh sebenarnya adalah karena SMS informasi yang tiba-tiba datang dan banyak tersebar dimedia sosial.
Prosedur 'mengeluarkan' peserta didik yang sudah tidak lagi terdaftar sebagai murid pada satuan pendidikan tertentu sebenarnya adalah hal yang lumrah dan memang sistem yang ada saat ini mendukung untuk hal itu, namun sering kali kita melupakan hal ini karena terlalu fokus pada beberapa data utama terutama yang terkait dengan tunjangan individu.
Kemudian selanjutnya adalah tentang data yang 'dihapus' itupun hal yang lumrah dan sudah sejak lama bisa dilakukan untuk semua data. Namun entah kenapa saat ini seperti menjadi hal baru dan belum pernah ada sebelumnya.
Yang harus kita sikapi dengan bijak adalah apabila peserta didik di sekolah kita tersebut yang kena imbas 'pembersihan', maka pastikan kita tahu informasi awal terhadap siswa tersebut, misalnya sebelumnya dari sekolah kecamatan sebelah, atau kabupaten sebelah atau bahkan lintas propinsi.
Saat kita sudah tahu yang perlu dilakukan hanya memastikan riwayat awal di sekolah asal sudah dinonaktifkan dari daftar siswa aktif dengan menghubungi langsung sekolah asal baik melalui kepala sekolah atau langsung ke pengelola data pokok disana.
Setelah pada sekolah asal dikeluarkan dan sudah melakukan sinkronisasi dengan data pusat langkah yang silanjutnya dilakukan adalah 'mengembalikan' data peserta didik yang sudah terhapus tersebut.
Proses mengembalikan data terhapus lengkap dengan data turunan juga bisa dilakukan langsung dari sisi klien atau sekolah dengan memanfaatkan fasilitas yang ada pada DH.
Kemudian lakukan sinkronisasi dengan data pusat dan selesai.
selengkapnya >>
Prosedur 'mengeluarkan' peserta didik yang sudah tidak lagi terdaftar sebagai murid pada satuan pendidikan tertentu sebenarnya adalah hal yang lumrah dan memang sistem yang ada saat ini mendukung untuk hal itu, namun sering kali kita melupakan hal ini karena terlalu fokus pada beberapa data utama terutama yang terkait dengan tunjangan individu.
Kemudian selanjutnya adalah tentang data yang 'dihapus' itupun hal yang lumrah dan sudah sejak lama bisa dilakukan untuk semua data. Namun entah kenapa saat ini seperti menjadi hal baru dan belum pernah ada sebelumnya.
Yang harus kita sikapi dengan bijak adalah apabila peserta didik di sekolah kita tersebut yang kena imbas 'pembersihan', maka pastikan kita tahu informasi awal terhadap siswa tersebut, misalnya sebelumnya dari sekolah kecamatan sebelah, atau kabupaten sebelah atau bahkan lintas propinsi.
Saat kita sudah tahu yang perlu dilakukan hanya memastikan riwayat awal di sekolah asal sudah dinonaktifkan dari daftar siswa aktif dengan menghubungi langsung sekolah asal baik melalui kepala sekolah atau langsung ke pengelola data pokok disana.
Setelah pada sekolah asal dikeluarkan dan sudah melakukan sinkronisasi dengan data pusat langkah yang silanjutnya dilakukan adalah 'mengembalikan' data peserta didik yang sudah terhapus tersebut.
Proses mengembalikan data terhapus lengkap dengan data turunan juga bisa dilakukan langsung dari sisi klien atau sekolah dengan memanfaatkan fasilitas yang ada pada DH.
Kemudian lakukan sinkronisasi dengan data pusat dan selesai.
Selasa, 24 Maret 2015
Pentingnya Memiliki Backup Data
Sudah beberapa kasus yang muncul mengenai perbedaan jumlah perhitungan jumlah siswa antara yang tampil pada aplikasi dapodik dengan saat pencairan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Padahal operator sekolah sudah merasa melakukan input data yang lengkap dan benar.
Atau bahkan kejadian ini dialami oleh rekan-rekan pengguna Dapodik Helper? bukan tidak mungkin kejadian ini akan memakan korban siapapun juga. Yang disayangkan adalah dari semua pihak yang terlibat kurang banyak melakukan monitoring baik itu di aplikasi ataupun pada web dapodikdas tentang kondisi data yang sudah dikirimkan tersebut.
Jika kondisinya operator tidak melakukan crosscheck pada web dapodik setelah melakukan sinkron, tentu hal ini bisa jadi masalah tersendiri apabila kondisi sinkronisasinya tidak sempurna sehingga ada data yang tidak sepenuhnya terkirim ke server dapodik yang mengakibatkan kondisi data di sisi aplikasi tidak sama dengan data pada server dapodik.
Masalah yang lebih serius selanjutnya adalah apabila data yang tidak sempurna tersebut ternyata digunakan untuk program tertentu misalnya BOS tentu saja akan merugikan sekolah karena data siswanya kurang. Sejauh apapun kita klaim belum tentu bisa menyelesaikan masalah apalagi pernah melakukan sinkron beberapa kali setelah sinkron terakhir karena data pada server dapodik sudah ditimpa beberapa kali oleh sinkronisasi yang selanjutnya.
Disinilah pentingnya kita memiliki backup data pada setiap waktu tertentu misalnya setiap berhasil melakukan sinkronisasi, karena data tersebut bisa menjadi bukti kuat apabila terjadi suatu hal dikemudian hari karena dari hasil backup tersebut bisa dilihat kondisi data pada periode tertentu baik dengan melihat meta data file .dbz ataupun log perubahan data yang tersimpan didalamnya.
selengkapnya >>
![]() |
| Login web dapodik |
Jika kondisinya operator tidak melakukan crosscheck pada web dapodik setelah melakukan sinkron, tentu hal ini bisa jadi masalah tersendiri apabila kondisi sinkronisasinya tidak sempurna sehingga ada data yang tidak sepenuhnya terkirim ke server dapodik yang mengakibatkan kondisi data di sisi aplikasi tidak sama dengan data pada server dapodik.
Masalah yang lebih serius selanjutnya adalah apabila data yang tidak sempurna tersebut ternyata digunakan untuk program tertentu misalnya BOS tentu saja akan merugikan sekolah karena data siswanya kurang. Sejauh apapun kita klaim belum tentu bisa menyelesaikan masalah apalagi pernah melakukan sinkron beberapa kali setelah sinkron terakhir karena data pada server dapodik sudah ditimpa beberapa kali oleh sinkronisasi yang selanjutnya.
Disinilah pentingnya kita memiliki backup data pada setiap waktu tertentu misalnya setiap berhasil melakukan sinkronisasi, karena data tersebut bisa menjadi bukti kuat apabila terjadi suatu hal dikemudian hari karena dari hasil backup tersebut bisa dilihat kondisi data pada periode tertentu baik dengan melihat meta data file .dbz ataupun log perubahan data yang tersimpan didalamnya.
Selasa, 17 Maret 2015
Sudah Benarkah Logo Tut Wuri Handayani yang Anda Gunakan?
Mungkin setiap hari kita melihat atau menemukan gambar logo Tut Wuri Handayani baik itu di kantor, portal berita, media sosial dan lainnya. Namun apakah logo yang kita lihat atau bahkan kita gunakan tersebut sudah sesuai dengan yang seharusnya atau hanya karena bagus semata? untuk itu mari kita mengingat kembali peraturan tentang logo Tut Wuri Handayani ini.
Lambang atau logo Tut Wuri Handayani yang merupakan lambang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah diatur dalam keputusan menteri pendidikan nomor 0398/M/1977 tanggal 6
September 1977 dengan uraian lambang sebagai berikut.
Referensi ini diambil dari Peraturan Menteri nomor 6 tahun 2013 tentang Tata Naskah Dinas di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
selengkapnya >>
Lambang atau logo Tut Wuri Handayani yang merupakan lambang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah diatur dalam keputusan menteri pendidikan nomor 0398/M/1977 tanggal 6
September 1977 dengan uraian lambang sebagai berikut.
- (1) Bidang Segi Lima (Biru Muda); menggambarkan alam kehidupan Pancasila.
- (2) Semboyan Tut Wuri Handayani; digunakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam melaksanakan sistem pendidikannya. Pencantuman semboyan ini berarti melengkapi penghargaan dan penghormatan kita terhadap almarhum Ki Hajar Dewantara yang hari lahirnya telah dijadikan Hari Pendidikan Nasional.
- (3) Belencong Menyala Bermotif Garuda; Belencong (menyala) merupakan lampu yang khusus dipergunakan pada pertunjukan wayang kulit. Cahaya belencong membuat pertunjukan menjadi hidup. Burung Garuda (yang menjadi motif belencong) memberikan gambaran sifat dinamis, gagah perkasa, mampu dan berani mandiri mengarungi angkasa luas. Ekor dan sayap garuda digambarkan masing-masing lima, yang berarti: ‘satu kata dengan perbuatan Pancasilais’.
- (4) Buku; Buku merupakan sumber bagi segala ilmu yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
- (5) Warna; Warna putih pada ekor dan sayap garuda dan buku berarti suci, bersih tanpa pamrih. Warna kuning emas pada nyala api berarti keagungan dan keluhuran pengabdian. Warna biru muda pada bidang segi lima berarti pengabdian yang tak kunjung putus dengan memiliki pandangan hidup yang mendalam (pandangan hidup Pancasila).
Referensi ini diambil dari Peraturan Menteri nomor 6 tahun 2013 tentang Tata Naskah Dinas di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Selasa, 27 Januari 2015
Klarifikasi Masalah Klaim DH Penyebab Error Dapodikdas 302
Untuk semua pengguna Dapodik Helper dimohon untuk dapat memahami terutama untuk fungsi-fungsi tertentu yang sudah banyak diingatkan pada blog ini, sehingga tidak lagi ada kebingungan.
Untuk permasalahan permintaan "Pengaturan Ulang" setiap setelah melakukan install ulang aplikasi Dapodikdas ataupun Dapodikmen pasti akan terjadi karena "Database" mengalami pergantian.
Untuk tahap tersebut sangat disarankan untuk melakukan "Run as Administrator" dan untuk kondisi komputer tertentu membutuhkan restart setelah proses komfigurasi selesai.
Untuk yang masih bingung tentang hal ini dapat dibaca kembali posting Pengaturan Tidak Ditemukan Dapodikdas 301 atau Problem Gagal Menjalankan Aplikasi Pada Window 64bit.
Semoga membantu.
selengkapnya >>
![]() |
| Klaim DH penyebab error |
Untuk tahap tersebut sangat disarankan untuk melakukan "Run as Administrator" dan untuk kondisi komputer tertentu membutuhkan restart setelah proses komfigurasi selesai.
![]() |
| Dapodikdas 302 berjalan dengan baik |
Semoga membantu.
Rabu, 17 Desember 2014
Mengenal Fasilitas Autentikasi
Masih banyak yang tidak faham mengenai maksud dari autentikasi karena dalam keseharian lebih familiar menggunakan istilah login. Fitur ini sudah ada sejak Dapodik Helper versi 2.5 namun jarang digunakan oleh pengguna aplikasi.
Fasilitas ini berfungsi melindungi beberapa fungsi yang dianggap rentan untuk disalah gunakan oleh pengguna yang tidak bertanggung jawab, sehingga untuk menggunakannya dibutuhkan verifikasi untuk memastikan yang sedang menggunakan aplikasi Dapodik Helper adalah operator data sekolah terkait.
Navigasi untuk menggunakan autentikasi bisa melalui toolbar langsung, atau dengan menggunakan sub menu hasilnya sama saja.
Untuk akses melalui toolbar klik icon toolbar paling kiri yang bergambar orang (lihat gambar atas), atau dengan menggunakan menu File dan sub Menu Autentikasi (lihat gambar bawah).
Pada gambar diatas bisa kita lihat pada menu File ada dua menu yang tidak aktif yaitu Profil Sekolah (menu pertama) dan Data Terhapus (menu ketiga), menu tersebut adalah contoh fasilitas yang terlindungi dibalik autentikasi.
Selanjutnya jendela autentikasi akan muncul seperti dibawah ini. Untuk mengisi username gunakan usernama yang sama dengan aplikasi Dapodikdas atau Dapodikmen, begitu juga dengan password.
Selanjutnya klik tombol Login. Apabila berhasil melakukan autentikasi maka akan muncul notifikasi seperti berikut.
Untuk memastikan Anda sudah berhasil melakukan autentikasi dapat dicoba dengan membuka kembali menu File dan hasilnya seperti gambar dibawah ini dengan kondisi menu yang sebelumnya non aktif kini menjadi aktif namun untuk menu Autentikasi sendiri menjadi tidak aktif.
Masih banyak fasilitas lainnya yang hanya aktif saat berhasil melakukan autentikasi, silahkan dicoba dan digunakan untuk membantu kerjaan pengolah data. Jangan menyalah gunakan fasilitas-fasilitas yang disediakan dalam Dapodik Helper agar data yang diolah tidak rusak atau bermasalah.
selengkapnya >>
Fasilitas ini berfungsi melindungi beberapa fungsi yang dianggap rentan untuk disalah gunakan oleh pengguna yang tidak bertanggung jawab, sehingga untuk menggunakannya dibutuhkan verifikasi untuk memastikan yang sedang menggunakan aplikasi Dapodik Helper adalah operator data sekolah terkait.
Navigasi untuk menggunakan autentikasi bisa melalui toolbar langsung, atau dengan menggunakan sub menu hasilnya sama saja.
![]() |
| Toolbar autentikasi |
![]() |
| Menubar autentikasi |
Selanjutnya jendela autentikasi akan muncul seperti dibawah ini. Untuk mengisi username gunakan usernama yang sama dengan aplikasi Dapodikdas atau Dapodikmen, begitu juga dengan password.
![]() |
| Jendela Autentikasi |
![]() |
| Autentikasi berhasil |
![]() |
| Fitur aktif setelah Autentikasi |
Jumat, 14 November 2014
Cetak Kartu Nomor Induk Siswa Nasional
Dari usulan fasilitas Dapodik Helper yang banyak diminta pengguna adalah kemampuan untuk membuat kartu NISN lengkap dengan QR Code. Hal ini dapat membantu khususnya operator yang dituntut agar bisa memberikan bukti fisik kepada sekolahnya dari apa yang sudah dikerjakan. Memang hal yang simpel namun bisa menjadi satu bukti hasil kerja.
Fasilitas ini dapat digunakan melalui tampilan tab Peserta Didik, kemudian pilih salah satu nama peserta didik yang akan dicetak. Selnjutnya klik kanan pada peserta didik tersebut.
Selanjutnya pilih menu "Kartu NISN" dan muncul jendela sebagai berikut.
Pilih direktori tujuan penyimpanan kartu yang akan dibuat, kemudian pilih tombol "Select". Apabila proses telah selesai akan muncul dialog seperti berikut.
Untuk melihat hasilnya buka direktori tempat penyimpanan menggunakan Window Explorer. Nama file yang dihasilkan adalah nomor NISN siswa tersebut dengan jenis file gambar .png.
Tampilan kartu yang dihasilkan seprti berikut.
Sampai disini anda sudah berhasil membuat kartu NISN untuk salah satu siswa tadi, silahkan ulangi untuk siswa lainnya sehingga direktori terisi penuh file semua kartu peserta didik yang dicetak.
Apabila tampilan desain ini dianggap terlalu sederhana pengguna juga dapat membuat template sendiri menggunakan desain sendiri, untuk hal ini akan dibahas pada uraian selanjutnya.
selengkapnya >>
Fasilitas ini dapat digunakan melalui tampilan tab Peserta Didik, kemudian pilih salah satu nama peserta didik yang akan dicetak. Selnjutnya klik kanan pada peserta didik tersebut.
![]() |
| Menu Kartu NISN |
![]() |
| Pilih Direktori Simpan |
![]() |
| Berhasil Menyimpan |
![]() |
| File Hasil |
![]() |
| Tampilan Kartu |
Apabila tampilan desain ini dianggap terlalu sederhana pengguna juga dapat membuat template sendiri menggunakan desain sendiri, untuk hal ini akan dibahas pada uraian selanjutnya.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
Hak Cipta © Dapodik Helper ™ 2014 - 2018.



















